Postingan

Di Meja Makan

Gambar
DI MEJA MAKAN ditulis oleh: Amanda Putri  Ia menengadah, menyaksikan bagaimana langit yang sudah menghitam tapi rinai hujan belum juga reda. Sudah hampir satu jam dirinya hanya berdiri di teras sebuah bangunan yang menjulang tinggi, konon ia gantungkan banyak harapan di lantai paling atas, berharap bangunan itu cukup kuat untuk membantunya menggapai banyak mimpi, meski harus menaiki banyak anak tangga. Malam ini, ia lupa mengantungi jas hujan dalam tas ransel hitam miliknya itu. Akhirnya ia memilih bersentuhan langsung dengan derasnya hujan, membiarkan tubuhnya basah dalam perjalanan menuju pemberhentian berikutnya. Doa-doa tumpah di jalan, terbawa arus hujan, semoga tubuhnya dikuatkan, tak menjadi sakit di esok hari kemudian.  Lalu, kini ia tiba di sebuah stasiun pemberhentian. Dirinya menaiki anak tangga dengan sesekali air hujan berjatuhan dari pakaiannya yang sedikit kuyup. Berkali-kali pula ia mengusap wajahnya yang tak henti-hentinya berair dan memilih menundukkan pandan...

Mati Berkali-kali

Gambar
"MATI BERKALI-KALI" ditulis oleh: Amanda Putri  Tak pernah ada yang meminta dilahirkan. Tuhan titipkan nyawa pada rahim yang senantiasa kau jaga. Kau langitkan doa-doa setiap harinya. Lalu saat hari kelahirannya tiba, para malaikat turut menyaksikanya, dan kau menyambutnya dengan penuh sukacita. Kau ajarkan ia cara untuk berjalan. Kau ajarkan ia membaca dari setiap buku-buku dongeng sebagai pengantar tidur yang seringkali kau ceritakan. Kau ajarkan ia cara berhitung dengan jari-jari mungilnya yang sering kewalahan. Kau asuh ia dengan ajaran-ajaran kebaikan. Kau kenalkan ia pada banyaknya rupa pemakluman. Lalu, kau kenalkan ia pada wujud kematian. Tumbuh dengan rumah yang cacat. Konon, hadirnya dianggap tak tepat. Seringkali, di wajahnya segala sumpah serapah mendarat. Kematian jadi doa yang acap kali tak bisa digugat, terus melekat dan merambat. Seiring bertumbuh, ia simpan rapi segala kalimat yang menyayat, di kepalanya yang riuh tak pernah rehat. Diam-diam ia aminkan ayat-a...

Pukul 00.00

Gambar
"PUKUL 00.00" Ditulis oleh: Amanda Putri Jalan yang lengang. Deru mesin kendaraan tak lagi terdengar. Tak ada lagi yang berlalu-lalang. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Hening, hanya diisi oleh detak arloji yang terpajang di dinding serta detak yang memburu di atas ranjang yang dingin. Sepasang netra yang senantiasa terjaga, menatap langit-langit kamarnya yang seolah menetap banyak aksara di atas sana, juga bayang-bayang atas kesalahan di masa silam yang tak pernah ia sampaikan pada telinga-telinga manusia. Untuk kesekian kali, ia mengutuk dirinya sendiri. Ayat-ayat kebencian sembahyang di dadanya, serta angkara yang terus memercik tak kunjung sirna. Isi kepalanya seperti terus menyala, membakar tubuhnya bak api neraka. Ia terlalu takut akan berakhir disana. Ia mencoba bangkit, berdiri di antara lantai-lantai dingin. Menyingkap jendela kamar dan membiarkan tubuhnya mengigil didekap angin. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Pertanyaan, penyesalan, dan penghakiman sil...

Susunan Puzzle

Gambar
"SUSUNAN PUZZLE" Ditulis oleh: Amanda Putri  Manusia itu lahir ke dunia sebagai permainan bongkar pasang, teka-teki, susunan puzzle yang rumpang. Diminta menyusun segala yang renggang dan berlubang. Dalam waktu yang teramat panjang. Ia mengais peluh dan keluh dalam lengang. Tak sesiapa mendengar suaranya berkumandang. Tak melihat rekah senyum yang perlahan hilang. Tak piawai membaca redup di binar yang sepasang. Tak dapat membilang sudah berapa banyak jatuh yang berulang. Sebab, diamnya meniti abadi di sepanjang hayat hingga berpulang. Mereka mengenalnya sebagai manusia yang hebat. Daksa yang bermegah nan kuat. keberhasilan yang kian merambat. Sukacita yang dirayakan penuh hangat. Rupa elok nan memikat. Pula tawa yang selalu melekat. Namun, mereka tak tahu, ia lahir sebagai permainan bongkar pasang yang belum juga tamat. Tak pernah terlihat kala ia bersimpuh penuh ayat-ayat. Tak pernah terlihat kala daksa tersungkur karena segalanya terasa berat. Mereka tak melihat, meski sud...

Hari Ini Ada Apa, Nara?

Gambar
Bangunan yang menjulang tinggi. Lantai yang dingin. Dinding-dinding pucat. Lorong yang lengang. Di depan sebuah ruangan, ia beranikan diri melangkahkan kakinya, membawa tubuhnya masuk lebih dalam ke dalam ruang keheningan. Beralih menutup pintu agar tak ada yang mendengar. Lalu, berdiri tepat di sebuah meja kaca dan seseorang yang terduduk di hadapannya. "Halo, Nara. Silakan duduk." Kalimat pertama yang memecah keheningan di sudut-sudut ruang putih itu. Gadis bernama Nara itu mengangguk dan tersenyum, lalu perlahan ia mendaratkan tubuhnya duduk di hadapan seseorang yang menyapanya itu. Kursi itu begitu dingin dan penuh kalut. Pasti banyak pikiran dan perasaan yang bergelut berakhir di kursi ini, pikirnya. Nara masih mempertahankan senyumannya yang semakin lama terlihat aneh. Kerutan di senyumnya tampak sangat ia paksakan. Sepasang binar di matanya pun redup, tak mengisyaratkan kehidupan. Namun, ia masih berusaha menggantungkan lengkung sabit itu di wajahnya yang pucat tak ber...

Nina Bobo untuk Angkara

Gambar
Cerita ini bukan tentang para manusia yang berbincang. Cari tahu lebih dulu arti tiap tokoh untuk lebih memahami peran masing-masing. **** Tangan itu terkepal kuat dengan urat-urat yang tercetak jelas. Bibirnya dibungkam erat. Kepalanya bergemuruh hebat. Dadanya sembahyang ayat-ayat. Tubuhnya mematung di tempat. Mungkin sabarnya sebentar lagi sekarat.  "Sejak kapan?" Angkara menoleh pada sebuah kehadiran yang mengambil alih peran debu jalanan yang duduk di kursi sebelahnya. Namanya Asmaraloka, penuh dengan cinta kasih, pemberian tanpa pamrih. "Sejak kapan tangan itu mengepal? Apa makian sedang kau rapal?" Angkara terlalu hitam bak jelaga, terlalu rimbun bak jenggala, tak terjamah bahasa pula rasa. Tak ada yang mampu menerima dan memahaminya. Angkara banyak luka, mulut seseorang berkali-kali menikamnya bak mata pisau. Percikan darah mengenai mereka, Angkara meminta maaf karena tak bermaksud menebar noda.  "Kau dapat menjadi lemah, Angkara. Lelahmu berhak mendapa...

Dikebumikan

Gambar
Namanya Nala. Ia berwarna biru, sebagian hitam terbakar hangus oleh rasa sakit dan ketakutan. Yang biru hanya tentang hal-hal yang selama ini ia pendam, dalam, legam, dan tak terjangkau. Serta tentang tenang yang masih berusaha ia tempa di atas ombak amarahnya yang tak kunjung reda. Menghantam kepala, membuatnya merutuki dunia dan segala hal yang menimpa. Nala banyak kecewa, sebab ia terlampau piawai dalam menanamkan rasa pula asa. Bagaimana jika dua manusia dipertemukan? Manusia yang mudah menebar janji, lalu bertemu manusia yang mudah menaruh imaji? Bukankah, perihal Nala sudah cukup menjelaskan itu semua? Nala senang duduk termenung. Isi kepalanya seperti sebuah pasar malam, riuh. Ada bianglala yang berputar yang terkadang membuatnya seringkali harus membeli obat sakit kepala. Ada komedi putar dengan tawa anak kecil yang begitu keras sampai tidak terdengar decit mesin tua yang seringkali mati mendadak. Ada pula rumah hantu yang sepi pengunjung sebab terlalu keramat untuk dikunjungi,...

Bruno, Aku Memilikinya

Gambar
Hei Bruno, aku mendengar salah satu lagumu. Aku menaruh harapan pada satu bait lirikmu. Kini, aku mendapatkannya. Dua tangkai bunga yang entah apa namanya, tapi yang kutahu aku menyukai warna dan bentuknya. Aku memberikannya untuk diriku sendiri, tahu bahwa ia perlu diapresiasi. Tak perlu oranglain mengasihi. Hei Bruno, lirikmu yang itu sedikit aku koreksi karena kamu keliru jika mengharapkan oranglain mampu membahagiakan seseorang yang kau cintai. Karena pada nyatanya seseorang itu mencintai dan menyayangi dirinya sendiri, lalu memberikan kebahagiaan dalam rupa tangkai bunga tanpa nama pengirim. Ia memberi, ia pula yang menerima. Sungguh, lirikmu itu salah bagi seseorang yang terbiasa menciptakan bahagianya sendiri. Hei Bruno, aku mengendarai motor bersama ibu hanya untuk mendapatkan dua tangkai bunga itu. Aku memintanya untuk mengambil gambarku saat aku tengah menggenggam bunga tersebut. Sederhana saja Bruno, aku senang akan hal itu. Aku juga mengambil beberapa gambarku dengan ibu, t...

Petang dan Yang Tak Pernah Pulang

Gambar
Pada suatu sore, aku ingin sekali terduduk lemah di hadapanmu. Aku ingin merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen. Aku ingin mengadu tentang apa-apa yang sudah kulalui di sepanjang perjalanan ku-tumbuh dewasa. Aku ingin menatapmu dengan kedua mata yang diguyur hujan tanpa harus menahan badai di kemudian. Aku ingin sekali saja menjadi dinding-dinding yang runtuh dari lamanya berdiri kokoh di segala musim. Aku ingin menjadi yang bebas memaki setelah banyaknya sesak yang ku-pendam dalam jeruji kepala.  Sekali saja aku ingin menemuimu. Aku ingin melihat garis-garis yang menua bermunculan di wajahmu. Aku ingin berbincang denganmu sampai akhir hari dan malam menyambut dengan penuh hangat. Aku ingin membuat bulan yang kesepian itu merasa iri padaku karena aku tak lagi sama sepertinya. Aku ingin mengatakan pada tiap-tiap angin yang berbisik menertawakanku bahwa kini aku diperbolehkan menjadi lemah. Sekali saja, aku ingin. Aku ingin menjadi lengkap yang rumahnya utuh. Aku i...

Selamat Ulang Tahun

Gambar
Pada satu hari baik, ia lahir ke dunia yang warnanya abu-abu. Diberi nama Amanda, yang katanya pantas disayangi. Di dunia yang abu, Amanda sudah diajarkan meraba sejak ia kecil. Merasakan lembut dan kasarnya kehidupan, serta para manusia-manusianya. Seiring beranjak dewasa, Amanda mulai mengenali banyak warna yang ternyata tak hanya abu-abu saja. Terkadang ia temui biru dirasa hangat dan tenang sebuah tubuh, terkadang ia temui merah di antara yang meletup hebat sebagai ambisi, terkadang ia temui kuning di sebuah senyum yang merekah tetapi terkadang juga di sebuah tiang-tiang jalanan yang melambangkan duka, terkadang juga ia temui hitam sebagai ruam yang telanjur kelam di sebuah binar yang padam. Ada banyak warna yang menghampirinya, dan mengajarkannya bahwa hidup bukan tentang berjalan lurus saja di satu warna, tapi tentang bagaimana hidup berjalan lurus dengan makna di setiap warna yang berbeda. Begitupun dengan manusia, ia temukan banyak rupa. Terkadang ada yang menggeliat kesal, men...

Harga Untuk Sebuah Percaya

Gambar
Masih tentang Lara dan segala hal di hidupnya. Tentang harga untuk sebuah percaya yang tak pernah ternilai oleh mata uang dan larutan janji. Lara tahu sejak beberapa tahun yang lalu, hidupnya tak lagi utuh. Ia hanya berjalan dengan tulang-tulang yang rapuh, yang sesekali terjatuh, lalu bersimpuh dan mengeluh, kemudian luruh separuh. Terus begitu hingga tak ada lagi kata penuh.  Daging-daging itu mulai mengerut membentuk garis-garis usia dan lelah yang semakin tumbuh dewasa; di kepala, kedua bahu, langkah kaki, dan kantung hitam di bawah matanya. Namun, hingga saat ini yang Lara pertanyakan hanya berapa harga untuk sebuah percaya? Adakah harga yang harus ia bayar untuk sebuah percaya? Sedari kecil, Lara sudah hilang kepercayaan. Laki-laki pertama yang seharusnya menjadi seseorang yang paling ia percaya, justru menjadi laki-laki pertama yang melahirkan ingkar dalam hidupnya. Lalu, bagaimana mungkin Lara bisa kembali percaya pada mereka yang disebut manusia? Meski binar matanya semaki...

Meniti Keabadian

Gambar
  "Kamu yakin mau berangkat sekarang juga, Ka?" "Iya, Bu. Lagipula, kemarin-kemarin Saka udah tunda terus keberangkatan Saka." Melihat keras kepala putranya yang tak bisa ia luluhkan, Ibu hanya menghela napas panjang. Sejak semalam, perasaannya tak tenang. Beberapa hari pula mimpi buruk kerap kali menghampiri tidurnya. Ibu tak ingin berprasangka buruk, karena yakinnya selalu bernaung dalam doa yang Ibu percaya tak pernah Tuhan lewatkan untuk di dengar. Ibu selalu berdoa untuk kebaikan mereka, terutama anaknya, Saka. "Bu, semalem Saka minta dibuatkan nasi goreng udang. Ibu sudah buat?" tanya Saka memecah lamunan Ibu. Ditatapnya sebentar wajah Saka, sebelum akhirnya mengangguk. "Sudah, ada di meja makan." "Ya sudah, Saka makan dulu. Jadi pas Saka berangkat, Saka nggak perlu makan apa-apa lagi." Saka yang sudah rapi dengan kemeja hitam dan jeans biru mudanya berjalan meninggalkan ibunya menuju meka makan. Saka sama sekali tak memperhatikan...

Aku Manusia

Gambar
Dua telinga terpasang, siap jadi rumah cerita untuk berpulang. Dadaku juga luas menempa tabah untuk segala keluh kesah. Bahuku tangguh untuk segala airmata yang singgah untuk luruh. Lenganku terasa hangat untuk memeluk segala luka yang membuatmu remuk. Aku bersedia menjadi rumah duka dari cerita-cerita pilu yang kamu bawa untuk berlabuh. Segala tutur kata sudah kupanaskan hingga mendidih di kepala untuk segala tanyamu yang barangkali memaksaku untuk angkat suara. Bahkan, tanpa segan telah kusediakan teh manis hangat untuk kamu teguk ketika tenggorakanmu tercekat saat bercerita. Aku juga sudah menyiapkan satu kamar khusus untukmu dengan selimut tebal agar kamu dapat terlelap dalam panjangnya malam setelah kamu habiskan waktumu untuk bercerita. Aku ada, menjadi jalan yang kau tuju, teh hangat yang kau teguk, kasur empuk yang meninabobokanmu, rumah duka atas lukamu, menjadi apapun yang kau inginkan, yang mungkin tak kau dapatkan selama ini. Namun, bukan berarti kamu berhak memperlakukanku...

Ini Tentang Amanda

Gambar
Mungkin kali ini, saya akan memberinya judul apresiasi dan evaluasi diri.  Beberapa tahun lalu, tubuh ini hampir kalah oleh kerasnya kehidupan yang menggerusnya. Ajaran-ajaran yang ia terima dari setiap alur kehidupan kadang seperti makanan pokok yang segala manis dan pahit harus tetap ia cerna untuk tetap bernyawa. Tak urung, tubuh ini seringkali mengeluh sakit. Terlalu keras diajar kehidupan. Tak urung pula, segala ruam ia terima tanpa meminta.  Pernah suatu waktu, satu bungkus pil obat terasa menjadi penyembuh dari tubuh yang terasa ingin luruh dan waras yang sedikit tak utuh. Namun, hidup mengajarkan bukan perihal segera sembuh, namun perihal proses untuk tumbuh. Dan, obat bukan jalan pintas untuk bertumbuh meskipun terbilang mampu membuat sembuh. Karena pada kenyataannya, sakit tetap ada di setiap jalan yang ia tempa.  Lalu bicara perihal mimpi, beberapa tahun yang lalu, mimpinya pernah digantungkan di atap-atap semesta. Percaya bahwa tak akan melahirkan kecewa. Siap...

Hidup dan Perjalanan Pendewasaan

Gambar
Binar di sepasang netranya kini meredup, tak secerah kala pertama kali melihat dunia. Senyum di wajahnya kini memudar, tak serekah kala pertama kali melihat manusia. Harapan hanya sebuah sisa-sisa yang membungkus dinding jantungnya agar tetap berdetak ketika banyak mimpi yang terlanjur mati. Namun, ia tetap melangkah, menjejak setiap jalan dari hidup yang selalu memberi kejutan dan pelajaran untuknya menjadi dewasa. Perkenalkan, namanya Lara. Gadis berusia 18 tahun yang dipaksa menjadi dewasa melampaui usianya.  Lara kecil tumbuh tanpa utuh. Dinding-dinding yang menopang rumahnya agar tak runtuh, kini telah lebur menjadi bangunan yang kumuh. Keluarga yang semula satu saling terikat, kini menjadi satu yang tak lagi saling mengikat. Saat itu, usia Lara terlalu dini untuk mengerti bahwa cinta sebagian tak semestinya memiliki, dan bersama tak selamanya abadi. Namun, Lara dipaksa mengerti ketika mau tak mau menyaksikan sebuah perpisahan yang ditampilkan di hadapannya. Lara kecil menjadi...

Penari Belakang Layar

Gambar
Piringan hitam itu ia nyalakan. Merdu sampai di kedua telinganya. Dengan gaun putih dan sepatu baletnya, kaki-kaki itu terlatih. Berjingkat. Berputar. Bergerak membentuk pola-pola di atas marmer hitam. Di belakang layar, tubuh itu dengan gemulainya menyampaikan kedukaannya melalui tarian. Isi kepalanya ikut menari mengenang segala mimpi yang hangus jadi abu.  "Bersikaplah layaknya seorang perempuan." "Perempuan itu harus bisa merawat diri." "Perempuan itu yang bisa menari, bukan bermain dengan imaji." "Perempuan itu yang tubuhnya gemulai, bisa bersikap elegan juga." Kata-kata itu menari-menari, terbentur, terbentur, terbentur, dan lebur di kepalanya. Tubuhnya terjatuh. Dari balik sepatu balet itu, biru tercetak jelas pada permukaan kakinya. Perih, namun sebisa mungkin ia tak menampilkan wajah sedih. "Kamu sebagai perempuan itu jangan cengeng. Jangan lemah." Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Kata-kata itu menghantam dadanya dan s...

Sebuah Peringatan Kehilangan

Gambar
Akhirnya, aku dan kamu bersua kembali pada perputaran tanggal yang sama di tahun yang berbeda. Namun, kini semakin jauh langkah yang kamu bawa, semakin jelas pula bahagiamu tertera, di sana. Dan, untukku semakin jelas bahwa mengalah adalah satu-satunya jalan yang kubisa. Berjalan mundur dan pulang tanpa harapan untuk bisa bersama. Masih ingat? Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menuliskanmu pada tempat yang sama seperti saat ini. Yang berbeda hanya perihal jarak, sisanya sama hanya tentang sebuah perasaan dan kehilangan. Beberapa tahun yang lalu, aku masih bisa melihat kedua netramu yang berbinar. Aku masih bisa melihat tawamu yang rekah. Berbicara denganmu masih menjadi hal yang mudah. Ada satu momen yang sampai saat ini tak bisa aku lupakan. Sudah jelas saat dimana kehilanganmu itu nyata karena kamu yang menjadikannya ada. Aku masih ingat bagaimana airmata itu luruh di sebuah ruangan sunyi karena tak kuasa menampilkannya di hadapanmu yang jauh berbeda dengan keadaanku saat itu. Aku...