Di Meja Makan
DI MEJA MAKAN ditulis oleh: Amanda Putri Ia menengadah, menyaksikan bagaimana langit yang sudah menghitam tapi rinai hujan belum juga reda. Sudah hampir satu jam dirinya hanya berdiri di teras sebuah bangunan yang menjulang tinggi, konon ia gantungkan banyak harapan di lantai paling atas, berharap bangunan itu cukup kuat untuk membantunya menggapai banyak mimpi, meski harus menaiki banyak anak tangga. Malam ini, ia lupa mengantungi jas hujan dalam tas ransel hitam miliknya itu. Akhirnya ia memilih bersentuhan langsung dengan derasnya hujan, membiarkan tubuhnya basah dalam perjalanan menuju pemberhentian berikutnya. Doa-doa tumpah di jalan, terbawa arus hujan, semoga tubuhnya dikuatkan, tak menjadi sakit di esok hari kemudian. Lalu, kini ia tiba di sebuah stasiun pemberhentian. Dirinya menaiki anak tangga dengan sesekali air hujan berjatuhan dari pakaiannya yang sedikit kuyup. Berkali-kali pula ia mengusap wajahnya yang tak henti-hentinya berair dan memilih menundukkan pandan...