Susunan Puzzle
"SUSUNAN PUZZLE"
Ditulis oleh: Amanda Putri
Manusia itu lahir ke dunia sebagai permainan bongkar pasang, teka-teki, susunan puzzle yang rumpang. Diminta menyusun segala yang renggang dan berlubang. Dalam waktu yang teramat panjang. Ia mengais peluh dan keluh dalam lengang. Tak sesiapa mendengar suaranya berkumandang. Tak melihat rekah senyum yang perlahan hilang. Tak piawai membaca redup di binar yang sepasang. Tak dapat membilang sudah berapa banyak jatuh yang berulang. Sebab, diamnya meniti abadi di sepanjang hayat hingga berpulang.
Mereka mengenalnya sebagai manusia yang hebat. Daksa yang bermegah nan kuat. keberhasilan yang kian merambat. Sukacita yang dirayakan penuh hangat. Rupa elok nan memikat. Pula tawa yang selalu melekat. Namun, mereka tak tahu, ia lahir sebagai permainan bongkar pasang yang belum juga tamat. Tak pernah terlihat kala ia bersimpuh penuh ayat-ayat. Tak pernah terlihat kala daksa tersungkur karena segalanya terasa berat. Mereka tak melihat, meski sudah acap kali diberi isyarat.
Mereka mengenalnya sebagai manusia berbudi pekerti terpuji. Dengan tangan yang senantiasa memberi. Dengan kedua kaki yang senantiasa mengiringi. Dengan daksa yang senantiasa mengasihi. pula sebagai manusia yang senang berbagi. Namun, mereka tak tahu, ia lahir sebagai permainan bongkar pasang yang penuh arti. Tak pernah peduli kala ia menangis seorang diri. Tak pernah peduli kala ia mengusahakan segalanya tanpa ditemani. Tak pernah peduli kala ia tak berhenti memaki atas kegagalan yang kerap kali ia temui. Tak pernah peduli kala ia terjatuh begitu kencang dan hancur berkeping tanpa ada yang bantu membenahi. Mereka tak peduli, meski sudah acap kali ia tak sanggup berdiri.
Nyatanya, mereka tak pernah benar-benar mengenal manusia itu. Mereka hanya bersikap seolah mengenalnya kala mereka temui kekeringan dalam perjalanan dan manusia itu menyediakan sebuah cawan berisi air untuk menghilangkan dahaga mereka. Mereka hanya bersikap seolah mengenalnya kala mereka temui ketidakmampuan dalam perjalanan dan manusia itu dengan piawai menyediakan anak tangga untuk mempermudah mereka menggapai. Mereka hanya bersikap seolah mengenalnya kala menemukan segala yang dibutuhkan mampu terpenuhi oleh manusia itu.
Mereka datang dan pergi. Bak ahli dalam kejiwaan dan segala permasalahan, manusia itu menjadi tempat pembuangan akhir dari segala kepahitan. Mereka seringkali datang, meminta telinga, meminta suara, meminta sebuah tubuh, meminta didengarkan, meminta diberikan penyelesaian, meminta diberikan tempat bersandar. Namun, adakah mereka datang menanyakan kabar? Adakah mereka datang menanyakan bagian mana yang memar?
Sudah tak tahu terimakasih, tapi mereka masih bisa tertawa penuh dalih. Tak peduli manusia itu bersedih. Tak peduli daksa yang kian ringkih. Mereka tak berbelas kasih. Mereka pikir mereka adalah manusia yang agung. Padahal tak punya malu selalu dijunjung.
Manusia itu lahir sebagai permainan bongkar pasang, teka-teki, susunan puzzle yang rumpang. Bertaruh permainan bongkar pasang miliknya yang segera rampung atau milik mereka yang lekas menemui ujung.

🥺🥺🤍🤍
BalasHapus