Mati Berkali-kali


"MATI BERKALI-KALI"

ditulis oleh: Amanda Putri 


Tak pernah ada yang meminta dilahirkan. Tuhan titipkan nyawa pada rahim yang senantiasa kau jaga. Kau langitkan doa-doa setiap harinya. Lalu saat hari kelahirannya tiba, para malaikat turut menyaksikanya, dan kau menyambutnya dengan penuh sukacita. Kau ajarkan ia cara untuk berjalan. Kau ajarkan ia membaca dari setiap buku-buku dongeng sebagai pengantar tidur yang seringkali kau ceritakan. Kau ajarkan ia cara berhitung dengan jari-jari mungilnya yang sering kewalahan. Kau asuh ia dengan ajaran-ajaran kebaikan. Kau kenalkan ia pada banyaknya rupa pemakluman. Lalu, kau kenalkan ia pada wujud kematian.

Tumbuh dengan rumah yang cacat. Konon, hadirnya dianggap tak tepat. Seringkali, di wajahnya segala sumpah serapah mendarat. Kematian jadi doa yang acap kali tak bisa digugat, terus melekat dan merambat. Seiring bertumbuh, ia simpan rapi segala kalimat yang menyayat, di kepalanya yang riuh tak pernah rehat. Diam-diam ia aminkan ayat-ayat kematian dengan khidmat. Lalu, gugur satu tanpa terlihat.

Harapan mulai kau letakkan pada kedua pundaknya saat dirasa tubuhnya semakin bertumbuh dan jauh lebih tangguh. Saban hari, ia bawa dalam tas besar dengan perjalanan yang panjang. Ia kantungi secercah doa baikmu di kemeja putihnya sebagai iman jikalau sewaktu-waktu terasa kepayahan. Terik di atas kepala hingga menggantung lampu-lampu jalanan, ia masih tak kunjung pulang. Berkendara di jalan yang terasa panjang. Lampu merah yang sesekali dihinggapi lamunan. Menumpangi kereta dan menunggu tiba di pemberhentian. Menghirup debu-debu dan asap kendaraan. Entah dimana, tujunya tiba. Tak urung, peluhnya berjatuhan, namun tak sedikitpun kau mendengar keluhan. Lelahnya, tak pernah disuarakan. Tangisnya, selalu disembunyikan.

Lalu, tiba pada hari penghakiman. Kedua kakinya dirantai, tangannya diikat kencang. Seolah melakukan kesalahan, ia dijatuhi hukuman. Ia berdiri di antara kalimat-kalimat bak mata pisau yang menghunus setiap rongga tubuhnya. Meninggalkan ruam mendalam di dadanya. Kemeja yang semula putih, kini berlumur merah merona yang memercik dan mengalir tak ada henti-hentinya. Katamu, ia kurang berusaha. Katanya, setengah mati ia berupaya. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya kalimat tidak apa-apa, sebab ia selalu mengingat ajaranmu perihal pemakluman. Lalu, ruam itu tetap tinggal dan lagi-lagi, ada satu yang kembali tanggal. 

Dengan tertatih, ia berusaha pulih. Dengan sedikit senyum yang terpatri, ia usahakan segalanya seorang diri. Meski beberapa kali ia tergiur menghabisi diri sendiri. Namun, hidupnya begitu bebal karena tetap selamat, mesti sudah dibuat mati berkali-kali. Ia beri perban untuk segala ruam di tubuh, ia balut dengan tangis yang luruh, dan di hadapan Tuhan, ia duduk bersimpuh. Tempat peraduan paling menenangkan. Ia sampaikan maaf atas banyaknya kegagalan. Ia sampaikan maaf atas banyaknya kekurangan. Ia sampaikan maaf karena masih keras kepala untuk mengusahakan dan tak memilih pulang ke pangkuan. Ia sampaikan maaf atas lamanya di kandungan tapi tak melahirkan anak yang membanggakan. Ia sampaikan maaf karena tak berhasil tumbuh dengan banyak pencapaian.

Ia sampaikan maaf untuk sekadar bisa rebah dan memejamkan sepasang netranya dengan setidaknya diberi sedikit ketenangan. Namun ia berjanji, setelah hari ini, ia akan tetap bangun esok pagi, meski ia akan dibuat mati berkali-kali, lagi. Semoga tak ada hari dimana ia memutuskan pulang sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikebumikan

Di Meja Makan

Susunan Puzzle