Hari Ini Ada Apa, Nara?


Bangunan yang menjulang tinggi. Lantai yang dingin. Dinding-dinding pucat. Lorong yang lengang. Di depan sebuah ruangan, ia beranikan diri melangkahkan kakinya, membawa tubuhnya masuk lebih dalam ke dalam ruang keheningan. Beralih menutup pintu agar tak ada yang mendengar. Lalu, berdiri tepat di sebuah meja kaca dan seseorang yang terduduk di hadapannya.

"Halo, Nara. Silakan duduk." Kalimat pertama yang memecah keheningan di sudut-sudut ruang putih itu.

Gadis bernama Nara itu mengangguk dan tersenyum, lalu perlahan ia mendaratkan tubuhnya duduk di hadapan seseorang yang menyapanya itu. Kursi itu begitu dingin dan penuh kalut. Pasti banyak pikiran dan perasaan yang bergelut berakhir di kursi ini, pikirnya.

Nara masih mempertahankan senyumannya yang semakin lama terlihat aneh. Kerutan di senyumnya tampak sangat ia paksakan. Sepasang binar di matanya pun redup, tak mengisyaratkan kehidupan. Namun, ia masih berusaha menggantungkan lengkung sabit itu di wajahnya yang pucat tak berpoles apa-apa.

Seseorang di hadapannya seolah siap merekam apa saja kemungkinan yang akan terjadi dengan selalu menggenggam pena dan lembaran kertas putih kosong di atas meja. Ia senantiasa menatap Nara yang masih bergeming. Sementara waktu terus berdetak dengan keheningan yang panjang, hanya terdengar bunyi jarum jam yang terus berlalu. Seolah memperhitungkan seberapa lama keduanya hanya akan saling berdiam diri.

"Hari ini ada apa, Nara?" tanya itu pecah, terbang dan hinggap di telinga Nara. Awan hitam seolah langsung berdatangan dan menutup lengkung sabit di wajah Nara.

Nara memainkan jemari kukunya. Mengelupasnya hingga beberapa diantaranya terluka, bahkan mengeluarkan darah. Nara terbiasa dengan kukunya yang tak pernah lentik dan cantik.

"Untuk mendengar seseorang menanyakan itu padaku, ternyata aku harus bayar mahal ya?" Nara terkekeh pelan dan sedikit meringis.

"Memang selalu seperti itu ya, Dok? Aku harus selalu punya uang untuk bisa didengar?" tanyanya kepada seseorang di hadapannya yang ia panggil sebagai Dokter. Dokter khusus untuk menangani manusia aneh dan sedikit rusak seperti Nara.

"Aku nggak punya cerita apa-apa, dok. Mau kayak gini aja. Rasanya kayak punya teman hehehe...." Nara kembali tertawa, sementara yang ia panggil sebagai dokter mulai meliukkan pena di genggamannya. Entah apa yang sedang ia tulis di atas kertas putih itu. Namun, hanya berlangsung beberapa detik karena kemudian tawa itu hilang seketika. Nara kembali terdiam, memperhatikan setiap sudut ruangan di sekitarnya.

"Dok?"

"Iya, Nara. Kamu boleh menceritakan apapun disini. Kamu menjadi sebebas-bebasnya dirimu, tanpa perlu takut akan dihakimi. Disini kamu akan didengarkan."

Nara menggelengkan kepalanya. Seolah tak setuju dengan kalimat barusan. Terdapat pertentangan dalam dirinya, "Hampir semua manusia yang aku temui, bisa mendengar kok, Dok. Tapi, kenapa harus berakhir disini ya?" gumamnya.

"Bahkan, aku datang kesini saja sendiri. Mereka mana tau itu, Dok. Mereka saja nggak mau mendengarkan. Tapi, aku pun dihakimi atas diamku. Pernah coba sampaikan amarah, katanya pun aku salah. Aku sebenarnya disini buat apa ya, Dok?" Nara menjeda kalimatnya dengan helaan napas yang begitu panjang. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan diri agar tak mengeluarkan suara yang penuh gemetar.

"Maksudku, di kehidupan ini, Dok. Aku buat apa dan buat siapa ya? Akhir-akhir ini pundakku berat, Dok. Rasanya seperti baru saja ada benda besar yang menghantamku. Tubuhku juga sering terasa sakit, seperti ada memar tapi aku nggak tahu sumber sakitnya dimana. Aku sering bercemin, Dok, memastikan tubuhku tetap utuh dengan baik tanpa tergores sedikitpun, tapi rasanya seperti babak belur diberi pukulan tak habis-habis. Mau pulang, Dok. Tapi, katanya aku sudah di rumah." 

Kepalan tangan itu semakin kuat dan meninggalkan merah di telapak. Tubuh Nara gemetaran hebat. Namun, tak sedikitpun ada tangisan yang terdengar dan sampai di telinga seseorang yang sedari tadi senantiasa mencatat.

Saat hening kembali menghampiri, barulah seseorang itu menghentikan gerakan tangannya. ia melipat kedua tangan dan menatap tepat tubuh rapuh di hadapannya. Tubuhnya memang diluar tampak utuh, tapi siapa sangka di dalamnya sudah banyak hal yang runtuh. Entah sudah berapa banyak gagal yang membuatnya terjatuh. Entah sudah berapa kali gadis itu duduk bersimpuh. Entah sudah berapa banyak tangis itu luruh. Namun, gadis itu masih mengusahakan terlihat tangguh.

"Nara—"

"Nggak, Dok. Aku cuma mau didengarkan saja sudah cukup. Bahkan aku ingin menghasilkan banyak uang untuk selalu bisa didengar. Jadi, sudah duduk dan tak kemana-mana saja, itu sudah cukup, Dok. Rasanya jauh lebih baik. Aku seperti siap berpulang tanpa beban," Nara tersenyum menampakkan sederet giginya. Tak lama, ia bangkit dari tempat duduknya. Begitu tergesa. Tak membiarkan seseorang di hadapannya berbicara.

"Aku sudah sering mendengar banyak orang bicara. Tapi terimakasih sudah sekali ini saja membiarkan aku yang bicara. Sekarang, aku hanya mau pulang saja, Dok."

"Nara, mungkin lain waktu—"

Lagi, Nara tak memberikan kesempatan seseorang itu untuk bicara karena belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Nara sudah lebih dulu melangkahkan kakinya pergi dengan tergesa. Bahkan ia meninggalkan catatan yang telah ditulis oleh seseorang yang ia panggil sebagai Dokter.

Nara pergi menjauh. Menyusuri lorong-lorong yang lengang itu dengan bersenandung kecil, namun terdengar jelas dan tak asing. Menapaki setiap lantai dingin dan dinding-dinding yang pucat. Meninggalkan bangunan yang menjulang tinggi itu. Kini, Nara pergi menjauh dan tak pernah ia dengar kembali kabarnya. Tak pernah ia temukan lagi kehadirannya. Tak pernah ia temukan lagi namanya di setiap pijakan dan tempat-tempat lainnya.

Namun, cerita Nara tertulis abadi di lembaran kertas di atas meja kaca yang pada satu hari itu abadi menjadi miliknya. 

Milik Nara. 

Entah dimana keberadaannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikebumikan

Di Meja Makan

Susunan Puzzle