Di Meja Makan
Ia menengadah, menyaksikan bagaimana langit yang sudah menghitam tapi rinai hujan belum juga reda. Sudah hampir satu jam dirinya hanya berdiri di teras sebuah bangunan yang menjulang tinggi, konon ia gantungkan banyak harapan di lantai paling atas, berharap bangunan itu cukup kuat untuk membantunya menggapai banyak mimpi, meski harus menaiki banyak anak tangga. Malam ini, ia lupa mengantungi jas hujan dalam tas ransel hitam miliknya itu. Akhirnya ia memilih bersentuhan langsung dengan derasnya hujan, membiarkan tubuhnya basah dalam perjalanan menuju pemberhentian berikutnya. Doa-doa tumpah di jalan, terbawa arus hujan, semoga tubuhnya dikuatkan, tak menjadi sakit di esok hari kemudian.
Lalu, kini ia tiba di sebuah stasiun pemberhentian. Dirinya menaiki anak tangga dengan sesekali air hujan berjatuhan dari pakaiannya yang sedikit kuyup. Berkali-kali pula ia mengusap wajahnya yang tak henti-hentinya berair dan memilih menundukkan pandangan, takut jika sewaktu-waktu para manusia itu menyadari adanya kesedihan yang turut ia bawa dalam perjalanan. Ia masuk ke dalam salah satu gerbong, berdiri sedikit menggigil, tubuhnya terasa dingin, tapi ditengah kerumunan manusia itu, dirinya tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Manusia dengan predikat tulang punggung, membawa banyak mimpi dan berharap pulang dengan mengantungi banyak keberhasilan dan disambut dengan senyuman serta dekap yang terasa menghangatkan. Ah, ternyata dia sibuk tenggelam dalam lamunan kala menatap pantulan wajahnya di dalam jendela kereta.
Stasiun demi stasiun, sudah banyak pemberhentian yang ia lewatkan. Bukan waktunya, katanya. Bukan tujuannya, katanya. Lalu tiba pada salah satu pemberhentian, ia bergegas turun. Perjalanannya belum berakhir sampai disana. Ia masih harus menempuh waktu hampir satu jam untuk akhirnya tiba di sebuah tempat yang ia sebut sebagai rumah. Ia berjalan keluar menuju tempat kendaraannya terparkir dan mulai melajukannya menjauh dari stasiun itu. Seolah tak memiliki waktu cukup banyak, ia berkendara dengan sangat kencang. Lalu, terhenti saat lampu di hadapannya menunjukkan warna merah. Disana, segala isi kepalanya tumpah, memikirkan perihal ketakutan-ketakutan akan hari esok, mimpi-mimpi yang belum berhasil ia gapai, harapan ibu yang setengah mati ingin ia upayakan serta rasa lelah yang perlahan merambat dan sembahyang di dadanya.
Tiba lampu kembali hijau, deru klakson memecah lamunannya. Ia kembali melajukan kendaraannya, sedikit lebih pelan, membiarkan rasa lelahnya terkikis dan berjatuhan di jalanan, agar ketika tiba nanti ia mampu memberikan bulan sabit yang melengkung sempurna di wajahnya. Agar cerah malam miliknya.
Akhirnya ia tiba di sebuah pekarangan dengan bangunan sederhana. Ia sapa para kucing yang senantiasa selalu menyambutnya di pagar-pagar rumah. Seolah mereka saling mengerti dan berbincang satu sama lain. Dengan pakaian yang sudah sedikit kering tertiup angin, ia pergi bergegas membersihkan diri. Menyiram tubuhnya dengan air bersih, berharap segala pahitnya di hari ini pun dapat luruh. Setelah ia rapikan dirinya yang sedikit berantakan, ia berjalan ke meja makan. Disana tersisa nasi dan lauk yang sudah mendingin menunggu kepulangannya bersama keheningan malam. Sementara, kursi-kursi di sebelahnya terbiarkan lengang karena para penghuni bangunan itu sudah lebih dulu terlelap menunggu kepulangannya yang terlalu larut. Barangkali menunggu sebuah kepulangan itu jauh lebih melelahkan daripada berjuang untuk akhirnya bisa merasakan pulang dan sedikit tenang.
Ia menghela napas berat. Perutnya sudah terasa kenyang oleh banyaknya pemikiran yang memenuhi isi kepala. Lagi, ia kembali dalam lamunan. Pukul sebelas malam, tubuhnya baru bisa mendarat di meja makan. Ah, andai bisa ia ingin sekali menaruh isi kepalanya disana dan menjadi kudapan yang ia biarkan basi, lalu ia bisa membuangnya begitu saja. Andai bisa.
Disana, ia mulai melihat langkah seorang gadis kecil yang berlarian bersama tenang-temannya. Ia juga mendengar tawa bahagia yang lepas dari mulut gadis kecil itu. Pun ia mendengar teriakan ibu yang meminta untuk berhati-hati, tapi tak dihiraukan oleh gadis kecil itu. Kemudian, ia beralih mendengar teriakan dari sepasang kekasih. Ia melihat jari jemari mereka yang saling menunjuk dan makian yang saling mencekik. Ia juga mendengar isak tangis yang disembunyikan di antara bantal tidur seorang gadis yang berusia belasan tahun. Lalu, ia beralih pada perempuan muda yang mengenakan pakaian hitam putih dengan map cokelat di genggamannya dan berjalan seorang diri kesana kemari. Ia mendengar suara langkah kakinya yang begitu tergesa dengan sumpah serapah dari mulut perempuan itu. Ia juga menyaksikan bagaimana perempuan itu menyembunyikan tangisnya di tengah perjalanan, di antara jam tidurnya, dan disaat semua orang lalai akan kehadirannya. Pula ia melihat bagaimana sesekali perempuan itu terdiam dan melamun saat tak sengaja menyaksikan sebuah keluarga yang lengkap dengan orang serta perannya. Namun, ia tak mendengar sedikitpun keluhan ataupun melihat perempuan itu bercerita tentang kesehariannya kepada siapapun.
Kemudian, dalam sekali kejapan, ia kembali ke dunianya. Kembali ke usianya. Kembali berada di meja makan. Kembali menyadari bahwa gadis mungil dan perempuan itu kini sudah tumbuh lebih baik dalam dirinya yang turut hadir bersamanya. Ia tersenyum, sabit yang melengkung sempurna di wajahnya.
“Setidaknya dari banyaknya kehilangan, aku tak kehilangan diriku. Dari banyaknya kesendirian dalam perjalanan, aku tetap tak kehilangan diriku.”
Gadis mungil dan perempuan itu pun turut tersenyum. Setidaknya di meja makan, ia tak kehilangan apapun.

Komentar
Posting Komentar