Pukul 00.00


"PUKUL 00.00"

Ditulis oleh: Amanda Putri


Jalan yang lengang. Deru mesin kendaraan tak lagi terdengar. Tak ada lagi yang berlalu-lalang. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Hening, hanya diisi oleh detak arloji yang terpajang di dinding serta detak yang memburu di atas ranjang yang dingin. Sepasang netra yang senantiasa terjaga, menatap langit-langit kamarnya yang seolah menetap banyak aksara di atas sana, juga bayang-bayang atas kesalahan di masa silam yang tak pernah ia sampaikan pada telinga-telinga manusia. Untuk kesekian kali, ia mengutuk dirinya sendiri. Ayat-ayat kebencian sembahyang di dadanya, serta angkara yang terus memercik tak kunjung sirna. Isi kepalanya seperti terus menyala, membakar tubuhnya bak api neraka. Ia terlalu takut akan berakhir disana.

Ia mencoba bangkit, berdiri di antara lantai-lantai dingin. Menyingkap jendela kamar dan membiarkan tubuhnya mengigil didekap angin. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Pertanyaan, penyesalan, dan penghakiman silih berganti berdatangan, seolah hadir menjelma sosok dihadapannya yang bertubuh besar dan menghajarnya berulangkali hingga penuh memar. Dibuat babak belur, namun begitu keras untuk dibuat gugur. Konon, belum siap berakhir dikubur.

Ia berandai-andai, kalau saja tak melahirkan hitam saat semua mata terpejam, kalau saja tak mengasuh kelam dalam selimut yang tergenggam, kalau saja tak membasuh ruam saat jiwa terasa keruh dalam dosa yang bersemayam, kalau saja tak sembunyi-sembunyi dalam wajah yang tak pernah muram, kalau saja, kalau saja, kalau saja.

Kalau saja...

"Mungkin tak ada sesal."

Kalimat berat itu terlepas dari bibirnya, jatuh dan hilang begitu saja, karena nyatanya sesal menjelma darah yang mengalir di setiap sela tubuhnya. Barangkali tak akan pergi, sekalipun kematian menghampiri.

Ia mempertanyakan, adakah pengampunan dari banyaknya salah yang tak lagi bisa ia perhitungkan dengan jari-jemarinya. Ia ragu, saat tiba di hari perhitungan, dirinya akan dimenangkan oleh kebaikan. Namun, Tuhan penuh akan pengampunan, kan?

Ia beranjak, menjejakkan kakinya pada lantai kamar mandi. Hanya gemericik air yang terdengar saling berjatuhan dan membasahi bibir, hidung, wajah, lengan, surai, daun telinga dan sepasang kakinya. Lalu berjalan kembali menuju kamar dan menguncinya rapat-rapat. Memastikan tak seorang pun terbangun. Di tengah lelap yang terasa lebih aduhai, ia memilih terjaga dan berusaha menjadi perayu yang piawai. Gerakan demi gerakan ia lakukan, lalu tiba pada sujud terakhir, suaranya terdengar getir, air matanya saling bergulir.

Kedua tangannya menengadah. Ayat-ayat kebencian berganti dengan doa-doa yang sembahyang di dadanya dengan gemuruh hebat. Tuhan selalu tahu segala hal yang berusaha ia sembunyikan dari mata manusia dan rupa dunia. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Doa pula dosa pulang pada langit-langit semesta, entah mana yang lebih berat, entah mana yang membuatnya selamat. Namun, ia tangguh pada kemurahan hati Tuhan atas pengampunan dari banyaknya kesalahan yang di perbuat, yang mungkin terlampau jahat, terlampau bejat, terlampau salah tempat, terlampau rekat dan sekarat.

 "Tuhan, maaf....."

Rintih dan lemah suara itu terdengar. Tubuh yang gemetar. Barangkali yang hitam tak lagi berpendar dan yang kelam mampu pudar. Barangkali dosanya terampuni. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang, jiwa pula kesadarannya. Kini, malam mendekap tubuhnya dalam balutan tenang. Biarkan yang terlafal tetap menjadi rahasia dan hanya dirinya serta Tuhan yang mengetahuinya. Semoga Tuhan jaga doa serta dosanya dari suara-suara manusia yang saling mencaci maki. Semoga Tuhan jaga doa serta dosanya dari tangan-tangan manusia yang mudah menghakimi. Semoga Tuhan selalu menjaganya. Semoga.

Tepat pukul 00.00 dan dirinya pulang, dengan tenang. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikebumikan

Di Meja Makan

Susunan Puzzle