Postingan

Badut dan Sebuah Atraksi

Gambar
Jemari itu dengan gemulai menari-nari di permukaan wajah dengan sebuah kuas seukuran jari tengahnya. Ia ukir sebuah garis panjang berwarna merah yang menyerupai sebuah senyuman yang melewati sudut-sudut bibirnya. Ia biarkan merah yang pekat itu menutupi memarnya. Lalu, ia campurkan warna merah dengan sedikit warna hitam agar terlihat lebih pekat dari sebelumnya. Dibuatnya lingkaran dengan tangan yang gemetar di sekitar kelopak matanya. Kemudian ia raih sebuah bola plastik berukuran kecil dengan warna yang serupa dengan bibirnya, lalu ia pasangkan pada ujung runcing hidungnya. Satu hal tak boleh ia lupakan, ialah sebuah topi hitam dengan bagian atas yang memanjang. Di sana tempat segala hal yang tak terduga terjadi. Tempat sembunyi sebuah rasa sakit. Tubuh ringkih, tulang punggung yang bungkuk, bahu yang tak lagi tegap, kerutan di sudut-sudut matanya yang semakin terlihat jelas, kulit-kulit yang mulai mengendur. Di tatapnya pantulan cermin di hadapannya yang menampilkan seorang badut tu...

Jika Suatu Hari Aku Jatuh Cinta

Jika suatu hari aku jatuh cinta, percayalah itu bukan padamu lagi. Tak akan kutaruh harapanku pada setiap langkah pulangmu yang bukan aku. Tak akan kusisipkan doa-doa pada setiap mimpi-mimpi yang kau inginkan tanpa aku. Warasku sudah sepenuhnya utuh setelah kala itu kau buat diriku terjatuh dengan perasaan yang tak pernah kau anggap sungguh-sungguh.  Jika suatu hari aku jatuh cinta, namamu tak akan pernah tersemat barang sedikit pun dalam lafal ucapanku. Tentangmu tak akan pernah tertulis di dalam lembar-lembar cerita dan puisi-puisiku. Karena sekali kau memutuskan meninggalkankan, maka saat itu pula segala tentangmu berhenti aku kisahkan, berhenti aku tuliskan. Jangan mengharapkan bahwa aku akan kembali meminta seperti semula, karena kali ini telah berbeda. Tak ada hati yang rela dibuat patah untuk kesekian kali. Tak ada bodoh yang terasa nyaman di dalam diri. Tak ada namamu lagi. Jika suatu hari aku jatuh cinta, hanya perasaan enggan yang tersedia untukmu. Segala tentangmu akan t...

Kepingan Mimpi dan Rasa Sakit

Aku mengembuskan napas kecewa. Bahuku melorot begitu saja. Terasa begitu berat beban yang kubawa selama ini tak membuahkan hasil yang kuinginkan. Kepalaku tertunduk lemas. Airmataku jatuh begitu saja tanpa bisa aku cegah. Satu. Satu. Semakin deras. Isakan yang semula tenang menjadi kencang. Kedua bahuku bergetar. Jantungku berdebar hebat. Tak ada namaku di sana. Tak kutemukan namaku di barisan hijau. Padahal tak pernah aku panjatkan penolakan, atau lebih parahnya penyesalan. Aku kalah bahkan sebelum dimulai. Dipaksa mundur teratur padahal hanya satu langkah lagi mimpiku tergapai. Rasanya begitu sesak mengingat bagaimana mimpi di bangun tinggi-tinggi. Malam yang dijadikan untuk terjaga mengerjakan algoritma yang terlampau sulit. Pagi yang dijadikan sebagai awal dengan tugas bahasa yang berlembar-lembar. Siang yang terasa begitu terik untuk mengerjakan bahasa asing dengan kamus-kamus tebal. Lalu petang yang terlampau jenuh dijadikan sebagai bahasan sejarah yang terasa memuakkan. Perjuang...

Secangkir Kopi Untuk Biru

Kepulanganmu tak pernah menjadi hal yang kutunggu-tunggu. Tak pernah pula kutanam rindu. Harapan tak pernah tumbuh, sudah sejak lama ia kubunuh. Jangan beri aku pertanyaan, sebab jawab tak pernah kusiapkan dalam lembaran kalimatku. Biarkan saja pulangmu menjadi pulang paling sederhana. Tanpa ada kudapan di atas meja. Tanpa ada sambutan kembang api yang di langitkan. Biar saja hanya secangkir kopi hitam yang kusuguhkan dengan rasa yang sama pahitnya dengan kekecewaan yang mungkin kau terima. Biru, pulangmu tak pernah ada dalam ceritaku. Tak pernah ada dalam inginku. Kembalilah pergi setelah kau habiskan kopimu yang barangkali membuat tenggorokanmu meronta tak terima. "Kinar, kau tak menambahkan gula sedikit pun?" Tidak, Biru. Aku tak menambahkan rasa manis pada cangkir kopimu. Aku tak ingin kau berlama-lama dan menjadi terbiasa untuk pulang setelah pergi begitu lama. "Kinar, nanti malam aku akan mengajakmu ke bukit bintang. Di sana kau akan melihat rasi yang kau suka. Kau...

Meminjam Telinga Tuhan

Malam ini lampu jalan padam, kendaraan lupa jalan pulang. Tersesat di persimpangan arah. Timur, Utara, Selatan, Barat. Tak ada yang tahu mana arah pergi untuk pulang, atau pulang untuk pergi. Gemintang tak membentuk rasi penunjuk arah, para nelayan merenung di tengah dinginnya laut biru. ingin pulang. Rindu masakan Ibu. Rindu rumah. Lalu, tangan-tangan itu tangguh menengadah. terbuka lebar-lebar berisi garis-garis takdir yang memanjang. Tubuhnya gamang sebab kantuk mulai menyerang. Lalu lintas ingar. Banyak kecelakaan di jalan karena lampu jalan yang padam. Ombak di laut sedang pasang. Para nelayan taruh jaring jika nantinya harus menyatu pada palung terdalam. Banyak ikan-ikan yang terlepas, bersorak ria. Sedangkan di rumah, Ibu harap-harap cemas. Anak sudah mengigau memanggil nama bapak. Pak, jangan pergi. Jangan pergi. Ibu terlalu cemas untuk mudah mengerti makna igauannya.  pintu di buka lebar. pagar-pagar mulai rimpuh oleh kedatangan yang belum juga tiba. Angin berdesau kencang...

Alter Ego

Aku heran dengan manusia yang hanya ingin didengarkan. memangnya hanya mereka yang memiliki cerita? memangnya hanya mereka yang memiliki luka? tapi, di saat aku ingin berbagi, mereka memilih pergi. Di saat aku ingin bercerita, mereka memutuskan tiada. Mereka selalu memilih tuli di saat mampu mendengarkan. Mereka selalu memilih bisu di saat mampu memberi saran. Aku heran, kenapa mereka begitu tak adil? "Kalau mereka bersikap adil, gak akan ada hukum." Aku menatapnya. Ia menjadi satu-satunya yang mau mendengarkan. Meski aku tahu, terkadang ia sering menyalahkanku. "Hukum untuk mengadili, manusia untuk menghakimi. begitu maksudmu?" Aku bertanya padanya dan sesuai dugaan, ia menganggukan kepala. "Tapi kadang hukum juga gak adil." kataku lagi. "Bisa beri aku contoh?" "Ketika manusia membunuh, mereka hanya dihukum di balik jeruji. Kenapa tak dibalas dengan membunuh juga? itu baru adil, kan?" Kau menggeleng, kau tak menyetujui ucapanku. Ah, te...

Tuan 24 November yang hilang

Sebenarnya kisah ini, mungkin gak pantas di sebut sebuah kisah, karena tak pernah lengkap, tak pernah rampung.  Mungkin juga gak ada yang harus diceritakan, selain dua orang yang memilih berpisah dan berakhir dengan saling mengikhlaskan, meski hanya satu yang menaruh perasaan.  Untuk kalian, aku akan menceritakan kedua orang itu.  Yang salah satunya ialah aku, yang menaruh perasaan kepada seorang tuan yang akhirnya pergi.  ~•~ Semesta mempertemukan aku dengannya. Bukan hanya sekedar tatap yang bertemu. Bukan pula menjadi perasaan yang menyatu. Tapi, ini tentang atap yang tak pernah sanggup, dan tentang rasa yang tak pernah cukup.  Aku dengannya berada di satu atap yang sama. Menempuh perjalanan dengan tujuan yang sama.  Kami adalah sebatas teman. Iya, hanya teman.  "you are my best fucking friend" Begitu katanya padaku saat terakhir kali kami bertemu.   Awalnya, aku pikir tidak akan ada sesuatu yang terjadi, tidak akan ad...