Digantikan Oleh Sulung

pict from Pinterest

DIGANTIKAN OLEH SULUNG
ditulis oleh: Amanda Putri


Asap mengepul dari sebuah lilin angka yang hampir terbakar habis diatas sepotong kue ulang tahun. Ia menatap kursi kosong di hadapannya, sesekali melirik ke arah jarum jam untuk memastikan detiknya seirama dengan hitungan mundur yang ia lafalkan diam-diam. Tepat tengah malam, namun ia melewatkan untuk meniup lilin miliknya itu.

“Hai, Pah?”

Bisiknya pelan dengan wajah yang ia tarik paksa untuk menciptakan sebuah senyuman. Tatapannya kini sama sekali tak beralih dari kursi kosong di hadapannya.

“Kali ini aku harus membuat harapan seperti apa lagi? Karena ketika aku meniup lilin ini, justru harapanku seolah ikut lenyap menjadi sisa-sisa asap yang hilang dalam hitungan detik, tanpa pernah sampai padamu.”

Lelehan lilin itu mengenai kue ulang tahunnya. Api yang semula menyala hebat, perlahan redup seperti keyakinannya pada hidup. Bagaimana bisa, ia menghabiskan hampir dua puluh tahun hidupnya dengan perayaan seorang diri, mencoba meyakinkan bahwa doa-doanya akan berlabuh pada kemurahan hati Tuhan, mencoba menarik paksa langkahnya untuk tetap berjalan dan membiarkan dirinya menjadi sulung sekaligus tulang punggung, serta mencoba untuk tetap berdiri tangguh seolah segalanya masih utuh dan tak pernah ada tangis di jam 2 pagi yang diam-diam luruh.

“Ibu semakin jarang memasak, Pah. Katanya, uang yang kuberi untuk membeli bekal yang sudah matang saja, yang porsinya cukup untuk tiga orang sehari penuh. Karena, setiap kali ibu pergi ke dapur dan membuat masakan, selalu tersisa dan berakhir di tempat sampah.”

“Mungkin, ada porsi untukmu disana yang tak pernah kau bawa atau sengaja kau tinggalkan, Pah. Sama seperti kami.”

Ia mencabut lilinnya yang sudah meleleh sempurna dengan api yang benar-benar mati. Membersihkan sisa lelehannya di atas kue, tapi justru meninggalkan jejak seperti lubang yang menganga, yang ia coba rapikan kembali. Sekilas nampak seperti kue yang utuh, namun tetap tak secantik yang semula. Seperti hidupnya, mau sebagaimana pun ia mencoba merapikan dan menutupi yang telanjur berlubang dan hilang, tetap saja akan terasa ada yang kurang dan tak seindah yang memang lengkap sepasang.

“Nasinya kurang hangat, Pah? Sampai memilih pergi dan makan di tempat lain? atau memang sudah tak ingin?”

Senyum getir itu semakin pudar dari wajahnya. Konon, saat tengah malam dan orang rumahnya terpejam, ia tak perlu lagi menyulam senyuman.

“Ibu memang tak pernah menangis sejak hari itu, Pah, tapi hitam di kantung mata ibu semakin melekat jelas. Ia tak pernah mengeluh, Pah, tapi setiap malam aku sering mencium bau minyak urut di tubuhnya.”

“Aku pun jadi sungkan mengeluh, Pah. Memilih jadi sulung sekaligus tulang punggung untuk peran yang seharusnya tak perlu dengan rakus aku ambil semua. Harusnya aku tak perlu pergi jauh ke ibukota hanya untuk memastikan beras tetap tersedia, listrik tetap menyala, dan rumah tetap berdiri meski hilang satu penyangga.”

Kursi berderit saat ia memilih bangkit dari duduknya. Membiarkan kue ulang tahunnya tetap utuh di meja makan. Setidaknya, malam ini ada satu yang tetap dipertahankan utuh. 

Kembali ia tatap kursi kosong di hadapannya sebelum melenggang pergi,

“Selamat, Pah. Selamat atas hilangnya peranmu.”


-Amanda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Meja Makan

Perjudian Di Atas Kertas Coklat

Petang dan Yang Tak Pernah Pulang