Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Di Meja Makan

Gambar
DI MEJA MAKAN ditulis oleh: Amanda Putri  Ia menengadah, menyaksikan bagaimana langit yang sudah menghitam tapi rinai hujan belum juga reda. Sudah hampir satu jam dirinya hanya berdiri di teras sebuah bangunan yang menjulang tinggi, konon ia gantungkan banyak harapan di lantai paling atas, berharap bangunan itu cukup kuat untuk membantunya menggapai banyak mimpi, meski harus menaiki banyak anak tangga. Malam ini, ia lupa mengantungi jas hujan dalam tas ransel hitam miliknya itu. Akhirnya ia memilih bersentuhan langsung dengan derasnya hujan, membiarkan tubuhnya basah dalam perjalanan menuju pemberhentian berikutnya. Doa-doa tumpah di jalan, terbawa arus hujan, semoga tubuhnya dikuatkan, tak menjadi sakit di esok hari kemudian.  Lalu, kini ia tiba di sebuah stasiun pemberhentian. Dirinya menaiki anak tangga dengan sesekali air hujan berjatuhan dari pakaiannya yang sedikit kuyup. Berkali-kali pula ia mengusap wajahnya yang tak henti-hentinya berair dan memilih menundukkan pandan...

Mati Berkali-kali

Gambar
"MATI BERKALI-KALI" ditulis oleh: Amanda Putri  Tak pernah ada yang meminta dilahirkan. Tuhan titipkan nyawa pada rahim yang senantiasa kau jaga. Kau langitkan doa-doa setiap harinya. Lalu saat hari kelahirannya tiba, para malaikat turut menyaksikanya, dan kau menyambutnya dengan penuh sukacita. Kau ajarkan ia cara untuk berjalan. Kau ajarkan ia membaca dari setiap buku-buku dongeng sebagai pengantar tidur yang seringkali kau ceritakan. Kau ajarkan ia cara berhitung dengan jari-jari mungilnya yang sering kewalahan. Kau asuh ia dengan ajaran-ajaran kebaikan. Kau kenalkan ia pada banyaknya rupa pemakluman. Lalu, kau kenalkan ia pada wujud kematian. Tumbuh dengan rumah yang cacat. Konon, hadirnya dianggap tak tepat. Seringkali, di wajahnya segala sumpah serapah mendarat. Kematian jadi doa yang acap kali tak bisa digugat, terus melekat dan merambat. Seiring bertumbuh, ia simpan rapi segala kalimat yang menyayat, di kepalanya yang riuh tak pernah rehat. Diam-diam ia aminkan ayat-a...

Pukul 00.00

Gambar
"PUKUL 00.00" Ditulis oleh: Amanda Putri Jalan yang lengang. Deru mesin kendaraan tak lagi terdengar. Tak ada lagi yang berlalu-lalang. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Hening, hanya diisi oleh detak arloji yang terpajang di dinding serta detak yang memburu di atas ranjang yang dingin. Sepasang netra yang senantiasa terjaga, menatap langit-langit kamarnya yang seolah menetap banyak aksara di atas sana, juga bayang-bayang atas kesalahan di masa silam yang tak pernah ia sampaikan pada telinga-telinga manusia. Untuk kesekian kali, ia mengutuk dirinya sendiri. Ayat-ayat kebencian sembahyang di dadanya, serta angkara yang terus memercik tak kunjung sirna. Isi kepalanya seperti terus menyala, membakar tubuhnya bak api neraka. Ia terlalu takut akan berakhir disana. Ia mencoba bangkit, berdiri di antara lantai-lantai dingin. Menyingkap jendela kamar dan membiarkan tubuhnya mengigil didekap angin. Tepat pukul 00.00 dan semuanya pulang. Pertanyaan, penyesalan, dan penghakiman sil...

Susunan Puzzle

Gambar
"SUSUNAN PUZZLE" Ditulis oleh: Amanda Putri  Manusia itu lahir ke dunia sebagai permainan bongkar pasang, teka-teki, susunan puzzle yang rumpang. Diminta menyusun segala yang renggang dan berlubang. Dalam waktu yang teramat panjang. Ia mengais peluh dan keluh dalam lengang. Tak sesiapa mendengar suaranya berkumandang. Tak melihat rekah senyum yang perlahan hilang. Tak piawai membaca redup di binar yang sepasang. Tak dapat membilang sudah berapa banyak jatuh yang berulang. Sebab, diamnya meniti abadi di sepanjang hayat hingga berpulang. Mereka mengenalnya sebagai manusia yang hebat. Daksa yang bermegah nan kuat. keberhasilan yang kian merambat. Sukacita yang dirayakan penuh hangat. Rupa elok nan memikat. Pula tawa yang selalu melekat. Namun, mereka tak tahu, ia lahir sebagai permainan bongkar pasang yang belum juga tamat. Tak pernah terlihat kala ia bersimpuh penuh ayat-ayat. Tak pernah terlihat kala daksa tersungkur karena segalanya terasa berat. Mereka tak melihat, meski sud...

Hari Ini Ada Apa, Nara?

Gambar
Bangunan yang menjulang tinggi. Lantai yang dingin. Dinding-dinding pucat. Lorong yang lengang. Di depan sebuah ruangan, ia beranikan diri melangkahkan kakinya, membawa tubuhnya masuk lebih dalam ke dalam ruang keheningan. Beralih menutup pintu agar tak ada yang mendengar. Lalu, berdiri tepat di sebuah meja kaca dan seseorang yang terduduk di hadapannya. "Halo, Nara. Silakan duduk." Kalimat pertama yang memecah keheningan di sudut-sudut ruang putih itu. Gadis bernama Nara itu mengangguk dan tersenyum, lalu perlahan ia mendaratkan tubuhnya duduk di hadapan seseorang yang menyapanya itu. Kursi itu begitu dingin dan penuh kalut. Pasti banyak pikiran dan perasaan yang bergelut berakhir di kursi ini, pikirnya. Nara masih mempertahankan senyumannya yang semakin lama terlihat aneh. Kerutan di senyumnya tampak sangat ia paksakan. Sepasang binar di matanya pun redup, tak mengisyaratkan kehidupan. Namun, ia masih berusaha menggantungkan lengkung sabit itu di wajahnya yang pucat tak ber...